Surat dari Kampung
Sebuah kisah perjuangan hidup dan misteri keluarga. Yohan Seran pulang ke kampung untuk mencari kebenaran tentang sengketa tanah keluarganya dan kematian ayahnya.
Daftar Bab
BAB 1 — SURAT DARI KAMPUNG
Ada kabar yang membawa pulang seseorang. Ada pula kabar yang memaksanya menghadapi luka yang selama bertahun-tahun berusaha ia lupakan.
Pukul lima lewat tiga puluh pagi, ketika langit masih berwarna kelabu, Yohan Seran sedang mengangkat karung beras di sebuah gudang kecil di pinggiran Kupang.
Keringat membasahi punggung kemejanya. Kedua tangannya terasa pegal, tetapi ia tidak berhenti. Hari itu ia harus menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat karena pemilik gudang berjanji akan membayar upah yang tertunda.
Bagi orang lain, uang itu mungkin tidak seberapa. Bagi Yohan, uang itu berarti beras untuk ibunya, biaya kuliah adiknya, dan kesempatan untuk melewati satu minggu lagi tanpa harus meminjam uang kepada orang lain.
“Han, teleponmu berbunyi dari tadi!”
Teriakan seorang pekerja membuat Yohan menoleh. Ia meletakkan karung yang baru saja diangkat, mengusap keringat di dahinya, lalu mengambil telepon dari saku celana.
Tiga panggilan tak terjawab. Semuanya dari nomor yang sama. Nomor kampung. Jantungnya mendadak terasa tidak tenang. Ia segera menelepon kembali. “Hallo?”
Suara perempuan di seberang terdengar pelan, seolah-olah orang itu sedang berusaha menahan tangis. “Yohan?”
“Iya, ini saya. Siapa?” “Ini Mama, Nak.”
Yohan terdiam. Ibunya jarang menelepon sepagi itu. Biasanya Maria hanya mengirim pesan singkat, menanyakan apakah ia sudah makan atau mengingatkannya agar tidak terlalu memaksakan diri bekerja.
Kali ini berbeda.
“Mama kenapa?” tanyanya cepat. “Marta sakit? Mama sakit?”
“Tidak, Nak. Kami tidak apa-apa.” “Lalu kenapa suara Mama begitu?”
Beberapa detik berlalu tanpa jawaban. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok, disusul bunyi kendaraan yang melintas di jalan depan gudang.
Kemudian Maria berkata, “Kamu masih ingat tanah di belakang rumah kita?”
Yohan mengernyit. Tanah itu? Bagaimana mungkin ia melupakannya? Di atas tanah itulah ayahnya menanam jagung, kacang-kacangan, dan beberapa pohon yang hasilnya digunakan untuk membiayai sekolah Yohan dan Marta. Di sana pula ia menghabiskan masa kecilnya, membantu ayahnya membersihkan rumput setiap akhir pekan.
Tanah itu bukan sekadar tempat mencari nafkah. Bagi keluarga Seran, tanah itu adalah warisan orang tua mereka. “Masih, Ma. Memangnya kenapa?”
“Mereka datang lagi kemarin.” “Siapa?”
Maria tidak langsung menjawab. “Orang-orangnya Pak Adrian.”
Rahang Yohan mengeras. Nama itu sudah lama tidak ingin didengarnya.
Adrian Klau adalah orang yang dahulu berjanji akan membantu keluarganya menyelesaikan persoalan administrasi tanah. Namun, setelah urusan itu ditangani Adrian, justru muncul berbagai masalah yang tidak pernah mereka alami sebelumnya.
Ayahnya dituduh menyerobot tanah orang lain. Dokumen keluarga dipertanyakan. Beberapa orang yang dahulu bersedia menjadi saksi mendadak memilih diam.
Sejak itu, kehidupan keluarga mereka berubah. “Sekarang mereka mau apa lagi?” tanya Yohan.
“Mereka bilang batas tanah harus dipindahkan. Katanya, sebagian tanah itu bukan milik kita.” Yohan menghela napas panjang.
“Lalu Mama bilang apa?”
“Mama bilang tanah itu milik keluarga kita sejak dulu. Tapi mereka membawa surat, Nak.” “Surat apa?”
“Mama tidak mengerti. Mereka hanya menunjukkan sebentar. Mereka bilang kalau kita tidak menerima, urusannya akan dibawa lebih jauh.”
Yohan memejamkan mata. Ia teringat wajah ayahnya pada malam sebelum dirinya meninggalkan kampung untuk mencari pekerjaan.
Mateus Seran duduk di beranda rumah, memandangi halaman yang gelap. Di tangannya ada secangkir kopi yang sudah dingin.
Waktu itu, Yohan masih percaya bahwa jika seseorang berkata jujur, kebenaran pada akhirnya akan menang. Ayahnya menepuk bahunya dan berkata, “Han, dalam hidup ini, jangan takut menjadi orang kecil. Yang perlu kamu
takutkan adalah kalau suatu hari kamu menjadi orang yang tidak lagi mengenal kebenaran.” Kalimat itu terus diingatnya.
Namun, apa gunanya kejujuran jika orang yang memegang kekuasaan bisa membuat kebohongan terlihat seperti kebenaran?
“Yohan?” suara ibunya membuyarkan lamunannya. “Iya, Ma. Saya dengar.
“Kamu bisa pulang?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi membuat Yohan sulit menjawab. Sudah hampir tiga tahun ia meninggalkan Malaka. Selama itu, ia bekerja serabutan di Kupang. Ada hari ketika ia mendapatkan upah cukup, ada pula hari ketika ia harus menghemat makan demi mengirim uang ke kampung.
Ia selalu berjanji akan pulang ketika keadaannya membaik. Tetapi keadaan tidak pernah benar-benar membaik.
“Kalau kamu belum bisa, tidak apa-apa,” lanjut Maria, seolah-olah memahami kebingungannya. “Mama hanya ingin kamu tahu. Mama tidak mau kamu mendengar cerita dari orang lain.”
Yohan menunduk. Ia tahu ibunya sedang berusaha terlihat kuat. Ia juga tahu bahwa setiap kali Maria berkata tidak apa-apa, biasanya justru ada sesuatu yang sangat mengganggunya.
“Ma,” katanya akhirnya, “saya pulang.”
“Jangan memaksakan diri, Nak.”
“Saya pulang besok pagi.”
Di seberang sana, Maria terdiam cukup lama. Lalu terdengar isak kecil yang buru-buru disembunyikannya. “Baiklah. Mama tunggu.”
Telepon berakhir. Yohan tetap berdiri di tempatnya, menggenggam ponsel dengan kuat.
“Han, kau kenapa?” tanya seorang pekerja yang mendekat.
Yohan memasukkan telepon ke saku.
“Saya harus pulang kampung.”
“Sekarang?”
“Besok.”
“Memangnya ada masalah?”
Yohan memandang pintu gudang yang terbuka. Cahaya pagi mulai masuk, menerangi tumpukan karung di dalamnya.
“Ada masalah yang sudah terlalu lama saya tinggalkan.”
Malam itu, Yohan menghitung uang di atas kasur tipis kamar kontrakannya.
Jumlahnya tidak banyak. Ia memisahkan uang untuk ongkos perjalanan, lalu menyisihkan sedikit untuk kebutuhan ibunya. Sisanya ia masukkan ke dalam dompet yang mulai usang.
Di sudut kamar, tas ransel tuanya masih tersimpan. Ia mengeluarkan beberapa pakaian, sebuah buku catatan, dan foto keluarga yang telah menguning di bagian tepinya.
Dalam foto itu, Mateus berdiri di samping Maria. Marta masih kecil, berdiri di depan mereka sambil tersenyum lebar. Yohan sendiri berdiri di sebelah ayahnya, mengenakan kemeja putih yang kebesaran.
Mereka terlihat bahagia. Tidak ada yang tahu bahwa beberapa tahun kemudian, keluarga itu akan saling menyalahkan karena sebuah persoalan tanah yang tak kunjung selesai.
Yohan mengusap wajah ayahnya dalam foto.
“Bapa, saya pulang,” bisiknya. “Kali ini saya tidak akan pergi sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Ia memasukkan foto itu ke dalam tas. Saat hendak menutup ransel, teleponnya kembali berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
Yohan membukanya. Pesan itu hanya terdiri dari dua kalimat.
“Kalau kau masih menyayangi ibumu, jangan pulang ke Malaka.”
Yohan membaca pesan tersebut berulang kali. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada penjelasan. Hanya ancaman yang terasa terlalu dekat dengan persoalan keluarganya.
Ia mencoba menelepon nomor itu, tetapi panggilannya tidak tersambung. Beberapa saat kemudian, satu pesan lagi masuk. Kali ini disertai sebuah foto. Yohan memperbesar gambar tersebut dengan jari gemetar.
Foto itu memperlihatkan rumah keluarganya di Malaka. Di depan rumah, berdiri seorang laki-laki yang sangat dikenalnya.
Adrian Klau.
Namun, yang membuat Yohan kehilangan kata-kata bukanlah kehadiran Adrian.
Di samping Adrian berdiri seseorang yang seharusnya menjadi orang terakhir yang akan membantu menghancurkan keluarganya.
Pamannya sendiri. Benediktus Seran.
Yohan menatap layar cukup lama, berharap matanya keliru. Tetapi wajah itu tidak berubah. Pamannya sedang berdiri di depan rumah mereka, tersenyum sambil berjabat tangan dengan Adrian.
Di bawah foto tersebut, pengirimnya menuliskan satu kalimat lagi.
“Kalau kau ingin tahu siapa yang menjual tanah ayahmu, tanyakan kepada pamanmu sendiri.”
Yohan meletakkan telepon di atas kasur. Dadanya terasa sesak oleh berbagai pertanyaan yang saling bertabrakan.
Apakah pamannya benar-benar mengkhianati mereka? Jika iya, mengapa? Dan jika foto itu memang baru diambil, mengapa ibunya tidak pernah menceritakan pertemuan tersebut?
Malam semakin larut. Di luar kamar, suara kendaraan perlahan berkurang. Namun, Yohan belum juga memejamkan mata.
Ia telah memutuskan untuk pulang demi menyelamatkan keluarganya. Sekarang, ia justru mulai bertanya-tanya apakah orang-orang yang hendak ditemuinya di kampung sendiri adalah orang-orang yang selama ini berusaha menghancurkan mereka.
Yohan mengambil kembali teleponnya. Ia mengetik satu kalimat kepada nomor yang tidak dikenal itu. “Siapa kamu, dan apa yang sebenarnya kamu ketahui tentang ayah saya?”
Pesan terkirim. Satu menit berlalu. Dua menit. Lalu layar telepon menyala kembali. Jawabannya singkat.
“Besok, sebelum kau naik kendaraan pulang, temui aku. Ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang kematian ayahmu.”
Yohan membeku.
Selama ini, ia mengira semua persoalan keluarganya bermula dari sengketa tanah. Tetapi sekarang, seseorang mengatakan bahwa ada sesuatu tentang kematian ayahnya yang belum pernah ia ketahui.
Dan jika orang itu berkata benar, mungkin selama ini ia telah mencari jawaban di tempat yang salah.
Yohan menatap pesan itu sekali lagi. Besok, ia seharusnya pulang ke Malaka. Tetapi sebelum berangkat, ia harus bertemu orang asing yang mengaku mengetahui rahasia kematian ayahnya.
Siapa orang itu? Apa yang sebenarnya terjadi pada Mateus Seran? Dan mengapa seseorang berusaha mencegah Yohan pulang?
BAB 2 — Kepulangan yang Tidak Disambut
Kadang-kadang, perjalanan pulang bukan tentang menemukan rumah. Melainkan tentang mengetahui siapa yang masih menganggap kita keluarga.
Pagi itu, Yohan berangkat lebih awal dari biasanya.
Tas ransel berwarna hitam tergantung di bahunya. Isinya hanya beberapa potong pakaian, sebuah buku catatan, foto keluarga, dan uang yang sudah dihitungnya berkali-kali sejak malam sebelumnya.
Namun, ada satu hal yang terus mengganggu pikirannya.
Pesan dari nomor tak dikenal itu.
Ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang kematian ayahmu.
Yohan belum pernah menerima pesan seperti itu sebelumnya. Selama ini, ia menganggap kematian ayahnya sebagai bagian paling menyedihkan dari masa lalu keluarganya. Mateus telah meninggal ketika persoalan tanah mereka belum selesai. Sejak itu, Maria tidak pernah banyak bercerita tentang hari-hari terakhir suaminya.
Yohan selalu berpikir ibunya terlalu sedih untuk mengingat semuanya.
Sekarang, ia mulai bertanya-tanya apakah ada alasan lain.
Sebelum berangkat, ia kembali menghubungi nomor misterius tersebut.
“Aku sudah siap pulang,” tulisnya. “Di mana kita bertemu?”
Balasan datang beberapa saat kemudian.
Datanglah ke warung dekat terminal. Cari laki-laki berkemeja cokelat. Jangan beri tahu siapa pun.
Yohan membaca pesan itu dua kali.
Ia tidak menyukai cara orang tersebut memberi perintah. Namun, rasa ingin tahunya lebih besar daripada kecurigaannya.
Ia pun menuju tempat yang dimaksud.
Warung dekat terminal sudah ramai ketika Yohan tiba.
Beberapa penumpang duduk sambil menikmati kopi. Sopir kendaraan antarkota bercakap-cakap tentang perjalanan dan kondisi jalan. Seorang ibu sibuk menyiapkan nasi bungkus untuk dijual kepada penumpang.
Yohan berdiri di dekat pintu, mengamati orang-orang yang ada di sana.
Di meja paling ujung, seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun duduk sendirian. Ia mengenakan kemeja cokelat yang lengannya digulung sampai siku. Di hadapannya terdapat secangkir kopi yang belum disentuh.
Ketika melihat Yohan, laki-laki itu mengangkat tangan sedikit.
“Kamu Yohan?”
Yohan mendekat, tetapi tidak langsung duduk.
“Bapak yang mengirim pesan?”
Laki-laki itu mengangguk.
“Nama saya Tobias Leki. Dulu saya sering berurusan dengan ayahmu.”
“Urusan apa?”
Tobias melihat ke arah jalan sebelum menjawab.
“Saya pernah membantu mencatat beberapa dokumen tanah di kampungmu. Tidak banyak orang yang tahu, tetapi saya masih ingat persoalan keluargamu.”
Yohan menarik kursi dan duduk.
“Bapak bilang ada sesuatu yang harus saya ketahui tentang kematian ayah saya.”
Wajah Tobias berubah serius.
“Ayahmu tidak meninggalkan kampung dalam keadaan tenang, Yohan.”
Yohan menatapnya lekat-lekat.
“Maksud Bapak?”
“Beberapa hari sebelum meninggal, ayahmu datang menemui saya. Dia membawa salinan dokumen dan mengatakan ada sesuatu yang tidak beres dengan surat tanah keluargamu.”
“Apa yang tidak beres?”
“Saya tidak tahu seluruhnya. Tetapi ayahmu yakin ada perubahan pada dokumen yang pernah ia tandatangani.”
Yohan terdiam.
Selama ini, yang ia ketahui hanyalah bahwa ayahnya berselisih dengan Adrian mengenai batas tanah. Ia tidak pernah mendengar cerita tentang perubahan dokumen.
“Lalu kenapa Bapak baru memberitahu saya sekarang?”
Tobias menunduk. Jari-jarinya memainkan gagang cangkir.
“Karena waktu itu saya takut.”
“Takut kepada siapa?”
Tobias tidak segera menjawab.
“Di kampung, Yohan, tidak semua orang berani berbicara ketika berhadapan dengan orang yang punya uang dan banyak kenalan. Saya punya keluarga. Saya tidak ingin mereka ikut menanggung akibatnya.”
Yohan merasakan kemarahannya perlahan muncul.
“Jadi, selama bertahun-tahun, Bapak memilih diam sementara keluarga saya menanggung semuanya?”
“Saya tahu kamu berhak marah.”
“Bapak tidak tahu apa yang kami alami!”
Beberapa orang di warung menoleh. Yohan segera merendahkan suaranya, tetapi wajahnya tetap tegang.
Tobias menerima kemarahan itu tanpa membantah.
“Saya tidak datang untuk meminta kamu memaafkan saya. Saya hanya ingin kamu tahu bahwa ayahmu pernah berusaha memperjuangkan sesuatu sebelum meninggal.”
Ia membuka tas kecil yang dibawanya dan mengeluarkan selembar kertas yang sudah dilipat.
Kertas itu berisi beberapa tanggal dan catatan singkat. Sebagian tulisannya mulai pudar.
Yohan membacanya dengan teliti.
Di bagian bawah terdapat nama Adrian Klau.
Di samping nama itu, ada tanggal yang sama dengan tanggal pada salah satu surat yang pernah dilihat Yohan ketika masih tinggal di kampung.
“Dari mana Bapak mendapatkan ini?”
“Catatan lama saya. Saya menyimpannya karena saya pikir suatu hari mungkin ada orang yang membutuhkannya.”
“Apakah ini membuktikan bahwa Adrian memalsukan dokumen?”
“Belum. Catatan ini hanya menunjukkan bahwa ada sesuatu yang perlu diperiksa. Kamu harus mencari dokumen aslinya dan membandingkannya. Jangan menuduh siapa pun sebelum kamu punya bukti.”
Yohan melipat kembali kertas itu.
Untuk pertama kalinya sejak menerima pesan misterius, ia merasa memiliki sesuatu yang bisa menjadi awal pencarian kebenaran.
Namun, ia juga sadar bahwa selembar catatan lama belum cukup untuk mengubah keadaan.
“Kenapa Bapak tidak datang sendiri ke kampung dan menjelaskan semuanya?”
Tobias menghela napas.
“Karena ada satu hal lagi yang belum saya ceritakan.”
Yohan menunggu.
“Pada hari ayahmu meninggal, saya mendengar bahwa dia hendak menemui seseorang. Saya tidak tahu apakah pertemuan itu benar-benar terjadi. Tetapi setelah hari itu, saya tidak pernah lagi melihat dokumen yang ia bawa.”
“Siapa yang hendak ditemuinya?”
Tobias memandang Yohan cukup lama.
“Saya hanya mendengar satu nama.”
“Siapa?”
Sebelum Tobias menjawab, teleponnya berdering.
Ia melihat layar, lalu segera berdiri.
“Saya harus pergi.”
“Bapak belum menjawab pertanyaan saya!”
Tobias memasukkan kertas-kertasnya ke dalam tas.
“Jaga dirimu, Yohan. Jangan biarkan kemarahan membuatmu bertindak tanpa berpikir.”
“Nama siapa yang Bapak dengar?”
Tobias sudah melangkah menuju pintu ketika ia akhirnya menjawab.
“Benediktus.”
Yohan terpaku.
Pamannya sendiri.
Tobias pergi tanpa menoleh lagi.
Perjalanan menuju Malaka terasa lebih panjang daripada yang Yohan bayangkan.
Sepanjang jalan, ia memandangi bentang alam Timor yang sudah lama dirindukannya. Tanah merah, hamparan rumput kering, pepohonan lontar, serta rumah-rumah yang berdiri berjauhan mengingatkannya pada masa kecil.
Ia seharusnya merasa senang.
Namun, semakin dekat ia ke kampung, semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya.
Mengapa ayahnya menemui Tobias?
Mengapa nama Benediktus muncul dalam cerita itu?
Dan mengapa ibunya tidak pernah membicarakan apa yang terjadi sebelum ayahnya meninggal?
Menjelang siang, Yohan akhirnya tiba.
Ia berjalan melewati jalan yang dikenalnya sejak kecil. Beberapa rumah sudah berubah. Ada pagar baru, bangunan yang diperluas, dan warung kecil yang dahulu belum ada.
Tetapi ketika ia memasuki jalan menuju rumahnya, langkahnya melambat.
Di kejauhan, ia melihat beberapa orang berdiri di dekat pagar.
Mereka sedang berbicara sambil memandang rumah keluarga Seran.
Ketika Yohan mendekat, percakapan itu berhenti.
Salah seorang dari mereka berbisik kepada temannya.
“Itu anak Mateus.”
Yohan mendengar perkataan itu, tetapi memilih terus berjalan.
Seorang tetangga yang dahulu sering menyapanya hanya mengangguk singkat. Yang lain pura-pura sibuk dengan pekerjaannya.
Tidak ada yang bertanya bagaimana kabarnya.
Tidak ada yang menyambut kepulangannya.
Di depan rumah, Maria berdiri sambil memegang ujung selendangnya. Begitu melihat Yohan, perempuan itu segera menghampirinya.
“Nak!”
Yohan meletakkan tasnya dan memeluk ibunya.
Tubuh Maria terasa lebih kurus daripada yang diingatnya.
“Kenapa Mama tidak bilang kalau keadaan sudah separah ini?” tanya Yohan.
Maria berusaha tersenyum.
“Mama tidak mau membuatmu terlalu banyak pikiran.”
Yohan memandangi halaman rumah.
Sebagian pagar kayu tampak sudah diganti. Di sisi jalan, patok batas tanah yang dahulu dikenalnya tidak lagi berada di tempat semula.
“Siapa yang memindahkan patok itu?”
Maria tidak menjawab.
Yohan kembali memandang ibunya.
“Ma, saya sudah bertemu seseorang di Kupang. Dia mengatakan ayah pernah mencari bantuan sebelum meninggal.”
Wajah Maria langsung berubah.
“Siapa yang kamu temui?”
“Namanya Tobias Leki.”
Maria melepaskan tangan Yohan.
Untuk sesaat, ia terlihat seperti seseorang yang baru saja mendengar kabar buruk.
“Jangan menemui orang itu lagi,” katanya.
Yohan terkejut.
“Kenapa?”
Maria menunduk.
“Karena ada hal-hal yang lebih baik tidak kamu buka kembali.”
Yohan memandang ibunya, mencoba memahami ketakutan yang tiba-tiba muncul di wajah perempuan itu.
“Mama tahu sesuatu tentang kematian Bapa?”
Maria tidak menjawab.
Ia hanya mengambil tas Yohan dan membawanya masuk ke rumah.
Namun, sebelum melewati pintu, ia berhenti dan berkata pelan.
“Kalau kamu benar-benar ingin tahu apa yang terjadi pada ayahmu, jangan mulai dari Adrian.”
Yohan mengerutkan kening.
“Lalu dari siapa?”
Maria menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Mulailah dari orang yang selama ini paling kamu percaya.”
Yohan langsung teringat pada satu nama.
Benediktus Seran.
BAB 3 — Tanah di Balik Pagar
Sebuah patok bisa dipindahkan dalam hitungan menit. Tetapi hak sebuah keluarga tidak seharusnya hilang hanya karena seseorang memindahkan batasnya.
Pagi pertama setelah kepulangannya, Yohan bangun sebelum matahari terbit.
Ia tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Perkataan ibunya terus terngiang di kepalanya.
Mulailah dari orang yang selama ini paling kamu percaya.
Bagi Yohan, tidak banyak orang yang bisa disebut sebagai keluarga dekat. Ayahnya telah meninggal. Ibunya kini menjadi satu-satunya orang tua yang dimilikinya. Marta masih kuliah dan belum mengetahui semua persoalan yang terjadi di kampung.
Sementara itu, Benediktus adalah adik kandung ayahnya.
Dahulu, pamannya sering datang ke rumah membawa hasil kebun. Ketika Yohan masih sekolah, Benediktus beberapa kali membantu membayar kebutuhan keluarga. Bahkan setelah Mateus meninggal, ia pernah berjanji akan menjaga Maria dan anak-anaknya.
Karena itulah, melihat pamannya berdiri bersama Adrian dalam foto misterius tersebut terasa seperti sebuah tamparan.
Namun, Yohan belum ingin mengambil kesimpulan.
Ia harus melihat sendiri keadaan tanah keluarganya.
Setelah mencuci muka, ia mengambil topi lusuh yang biasa dipakainya ketika membantu ayah di kebun. Kemudian ia berjalan menuju bagian belakang rumah.
Udara pagi masih sejuk. Embun menempel pada rerumputan, sementara suara burung terdengar dari pepohonan di kejauhan.
Tanah itu membentang di belakang rumah, tidak terlalu luas, tetapi cukup untuk menjadi sumber penghidupan keluarga mereka.
Yohan masih mengingat setiap bagiannya.
Di sudut sebelah kiri, dahulu ayahnya menanam jagung. Di dekat pohon asam, ada tempat mereka menyimpan alat pertanian. Sementara di sisi timur, terdapat batas tanah yang selama bertahun-tahun ditandai dengan patok kayu.
Namun, pemandangan yang dilihatnya pagi itu membuat langkahnya terhenti.
Patok yang seharusnya berada dekat pohon asam kini berdiri beberapa meter lebih jauh ke dalam tanah keluarga mereka.
Sebagian area yang dahulu mereka tanami telah dibersihkan.
Di sana, beberapa batang kayu baru ditancapkan sebagai penanda.
Yohan berjalan mendekat.
Ia berjongkok, menyentuh tanah di sekitar salah satu patok, lalu memandang ke arah batas yang baru.
Ia tidak tahu siapa yang memindahkannya atau atas dasar dokumen apa perubahan itu dilakukan.
Tetapi satu hal jelas: batas yang dilihatnya sekarang tidak sama dengan batas yang diingatnya sejak kecil.
“Jadi, ini yang mereka lakukan ketika saya tidak ada.”
Suaranya terdengar lirih.
Ia teringat bagaimana ayahnya dahulu selalu mengajaknya memeriksa kebun. Mateus mengajarkan bahwa setiap batas tanah harus dihormati. Jika ada perselisihan, bicarakan baik-baik dan periksa bukti yang dimiliki masing-masing pihak.
“Tanah ini bukan hanya soal uang, Han,” kata ayahnya pada suatu sore. “Di sini ada kerja keras orang tua kita. Kalau suatu hari kamu harus memperjuangkannya, jangan hanya mengandalkan marah. Bawa bukti.”
Dahulu, Yohan menganggap nasihat itu sebagai pelajaran biasa dari seorang petani.
Sekarang, kalimat itu terasa seperti pesan yang sengaja ditinggalkan untuknya.
Ia mengeluarkan telepon dan memotret keadaan tanah dari beberapa sudut. Ia juga mencatat letak patok yang berubah serta bagian kebun yang telah dibersihkan.
Ia tidak berniat merusak atau memindahkan apa pun.
Jika ingin memperjuangkan hak keluarganya, ia harus mengetahui keadaan sebenarnya terlebih dahulu.
“Sedang apa kamu di situ?”
Yohan menoleh.
Seorang laki-laki berdiri tidak jauh dari pagar. Usianya sekitar empat puluh tahun, mengenakan kaus gelap dan celana panjang. Yohan mengenal wajahnya sebagai salah satu orang yang beberapa kali terlihat bersama Adrian.
“Saya sedang melihat tanah keluarga saya,” jawab Yohan.
Laki-laki itu mendekat beberapa langkah.
“Tanah keluarga kamu?”
“Iya.”
“Setahu saya, sebagian tanah di sini sudah masuk dalam batas milik Pak Adrian.”
Yohan menatapnya.
“Berdasarkan surat apa?”
Laki-laki itu tampak tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu.
“Sudah ada urusannya. Kamu tidak perlu ikut campur.”
“Ini tanah keluarga saya. Saya berhak mengetahui dasar perubahan batasnya.”
Laki-laki itu tersenyum tipis.
“Kamu baru pulang, tetapi sudah banyak bertanya.”
“Karena saya menemukan banyak hal yang tidak sesuai dengan apa yang saya ketahui.”
Suasana mendadak tegang.
Laki-laki itu menatap Yohan dari ujung kepala sampai kaki.
“Dengarkan baik-baik. Jangan membuat masalah yang tidak perlu. Hidup di kampung akan lebih mudah kalau kamu tahu diri.”
Yohan mengepalkan tangan, tetapi ia segera mengendurkannya kembali.
Ia teringat nasihat ayahnya.
Jangan hanya mengandalkan marah. Bawa bukti.
“Saya tidak mencari masalah,” jawabnya. “Saya hanya ingin melihat dokumen yang menjadi dasar perubahan batas tanah ini.”
“Kalau mau tahu, temui Pak Adrian.”
“Baik. Saya akan menemuinya.”
Laki-laki itu tampak sedikit terkejut, seolah-olah tidak menyangka Yohan akan menjawab dengan tenang.
Ia lalu berbalik dan pergi.
Yohan tetap berdiri di tempatnya sampai laki-laki itu menghilang di balik jalan kecil.
Siang harinya, Yohan menemui ibunya di dapur.
Maria sedang memilah kacang-kacangan yang baru dibelinya dari seorang tetangga. Di sampingnya terdapat beberapa bungkus makanan kecil yang biasa dijualnya untuk menambah penghasilan.
“Ma, saya ingin melihat dokumen tanah keluarga.”
Tangan Maria berhenti bergerak.
“Untuk apa?”
“Saya ingin membandingkan dokumen yang kita punya dengan surat yang mereka gunakan.”
Maria menatapnya dengan ragu.
“Dokumen itu sudah lama, Nak.”
“Justru karena itu saya perlu memeriksanya.”
Ibunya diam beberapa saat sebelum berdiri dan masuk ke kamar.
Yohan menunggu di ruang tengah.
Tak lama kemudian, Maria kembali membawa sebuah map plastik berwarna biru. Bagian tepinya sudah kusam, dan salah satu sudutnya robek.
“Ini yang masih Mama simpan,” katanya.
Yohan membuka map itu dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas: salinan surat lama, catatan pembayaran, dan selembar dokumen yang menunjukkan riwayat penguasaan tanah keluarga mereka.
Ia memeriksa setiap halaman.
Sebagian tulisan sulit dibaca karena sudah memudar. Namun, tanggal dan beberapa nama masih terlihat jelas.
“Mana dokumen aslinya, Ma?”
Maria menggeleng.
“Dulu Bapa yang menyimpannya.”
“Di mana?”
“Mama tidak tahu. Setelah Bapa meninggal, Mama hanya menemukan salinan ini.”
Yohan berhenti membalik halaman.
“Jadi, dokumen aslinya hilang?”
Maria menunduk.
“Mama sudah mencari. Tidak ketemu.”
Yohan menutup map itu perlahan.
Dokumen asli yang hilang, batas tanah yang berubah, catatan lama dari Tobias, serta pesan misterius tentang kematian ayahnya.
Semuanya seperti potongan-potongan kecil dari sebuah persoalan yang jauh lebih besar.
“Ma, apa Bapa pernah mengatakan bahwa ia akan menyerahkan tanah ini kepada orang lain?”
Maria langsung menggeleng.
“Tidak pernah. Ayahmu selalu berkata tanah itu harus dijaga untuk anak-anaknya.”
“Lalu kenapa orang-orang berani mengaku sebagian tanah ini milik mereka?”
Maria memandang pintu kamar, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.
“Karena mereka yakin kita tidak punya cukup bukti untuk melawan.”
Yohan menatap ibunya.
“Siapa yang mengatakan itu?”
Maria terlihat menyesal telah berbicara terlalu jauh.
“Sudahlah, Nak. Jangan membuat masalah menjadi lebih besar.”
Namun, Yohan tidak lagi bisa mengabaikan semua kejanggalan itu.
Ia memasukkan kembali dokumen-dokumen tersebut ke dalam map dan berjanji akan menjaganya.
Sore harinya, ia kembali memeriksa foto-foto yang diambilnya di kebun. Ia memperbesar gambar patok dan membandingkannya dengan foto lama keluarga mereka yang memperlihatkan sebagian halaman rumah.
Perbandingan itu belum cukup untuk membuktikan apa pun.
Tetapi ia membutuhkan catatan yang lebih jelas tentang batas tanah sebelum perubahan terjadi.
Yohan teringat pada ayahnya.
Mateus dahulu sering berbicara dengan seorang tetangga tua yang rumahnya tidak jauh dari kebun mereka. Orang itu sudah mengenal keluarga Seran jauh sebelum persoalan tanah muncul.
Namanya Marius.
Mungkin Marius masih mengingat keadaan tanah tersebut.
Yohan memutuskan akan menemuinya keesokan hari.
Namun, sebelum ia sempat beristirahat, suara sepeda motor berhenti di depan rumah.
Seseorang memanggil dari luar.
“Yohan! Ada titipan untukmu!”
Yohan keluar.
Seorang pemuda yang tidak dikenalnya menyerahkan amplop cokelat kecil, lalu segera pergi tanpa menjelaskan siapa pengirimnya.
Yohan membuka amplop itu.
Di dalamnya terdapat selembar fotokopi dokumen tanah.
Ia membaca tulisan di bagian atas, kemudian memeriksa tanggal dan tanda tangan yang tercantum.
Namanya tidak ada di sana.
Nama ayahnya juga tidak muncul seperti yang ia harapkan.
Namun, di bagian bawah dokumen itu terdapat nama seseorang yang sangat dikenalnya.
Benediktus Seran.
Dan di samping nama pamannya terdapat sebuah tanda tangan.
Yohan menatap dokumen itu lama sekali.
Ia belum tahu apakah dokumen tersebut asli, sah, atau hanya salinan yang sengaja dikirim untuk menyesatkannya.
Tetapi kini ia memiliki alasan baru untuk mencari jawaban.
BAB 4 — Nama Ayah yang Dicemarkan
Orang yang sudah meninggal tidak bisa membela dirinya sendiri. Itulah sebabnya fitnah kadang-kadang bertahan lebih lama daripada orang yang menyebarkannya.
Yohan tidak tidur nyenyak malam itu.
Dokumen yang diterimanya masih tergeletak di atas meja. Ia sudah membacanya berulang kali, tetapi tetap belum memahami mengapa nama pamannya tercantum di sana.
Ia tidak ingin langsung menuduh Benediktus.
Tanda tangan pada sebuah fotokopi belum membuktikan bahwa seseorang melakukan kesalahan. Bisa saja pamannya hanya menjadi saksi, atau dokumen itu berkaitan dengan urusan lain yang tidak diketahuinya.
Namun, satu hal membuatnya gelisah.
Mengapa dokumen itu baru muncul sekarang?
Dan siapa yang sengaja mengirimkannya ke rumah?
Yohan mengambil telepon, memotret dokumen tersebut, lalu menyimpannya. Setelah itu, ia memasukkan fotokopi itu ke dalam map biru bersama dokumen keluarga yang diberikan ibunya.
Ia memutuskan untuk tidak menunjukkan temuan itu kepada siapa pun sebelum mengetahui lebih banyak.
Pagi harinya, ia pergi menemui seorang tetangga yang telah lama mengenal keluarganya.
Namanya Marius.
Rumah Marius berada tidak jauh dari jalan menuju kebun keluarga Seran. Bangunannya sederhana, dengan halaman luas dan beberapa pohon di samping rumah. Ketika Yohan tiba, laki-laki itu sedang memperbaiki gagang cangkul.
“Om Marius,” sapa Yohan.
Marius mengangkat kepala. Sesaat kemudian, wajahnya berubah cerah.
“Yohan! Kapan kamu pulang?”
“Kemarin, Om.”
Marius meletakkan cangkulnya dan menepuk bahu Yohan.
“Sudah besar sekarang. Lama sekali kamu tidak pulang.”
Yohan tersenyum kecil.
Mereka berbicara sebentar tentang pekerjaan Yohan di Kupang, keadaan Maria, dan Marta yang masih kuliah. Namun, senyum Marius perlahan menghilang ketika Yohan menyebut persoalan tanah keluarganya.
“Saya mau bertanya tentang Bapa,” kata Yohan.
Marius menarik kursi untuknya.
“Apa yang ingin kamu ketahui?”
“Dulu, sebelum Bapa meninggal, apakah Om pernah mendengar orang menuduh beliau menyerobot tanah?”
Marius terdiam.
Ia memandang ke arah jalan, lalu mengusap dagunya.
“Pernah.”
Jawaban itu membuat Yohan menegakkan punggung.
“Siapa yang menuduhnya?”
“Waktu itu sudah banyak orang membicarakannya. Ada yang bilang ayahmu menggeser batas tanah. Ada yang bilang dia menggunakan surat yang tidak sesuai.”
“Apakah Om percaya?”
Marius tidak segera menjawab.
“Yohan, orang bisa mempercayai sesuatu hanya karena mendengarnya berulang kali. Tetapi mendengar cerita bukan berarti mengetahui kebenaran.”
“Jadi, Om tidak tahu apakah Bapa melakukan itu?”
“Saya mengenal ayahmu cukup lama. Dia orang yang keras kepala kalau menyangkut kejujuran. Kalau merasa benar, dia tidak mudah mundur. Tetapi saya tidak bisa memastikan semua urusan dokumen yang terjadi waktu itu.”
Yohan menunduk.
Ia berharap menemukan seseorang yang bisa langsung membersihkan nama ayahnya. Namun, kenyataan ternyata tidak sesederhana itu.
“Setelah Bapa meninggal, orang-orang masih membicarakannya,” lanjut Marius. “Ada yang mengatakan keluargamu harus menerima keadaan. Ada juga yang menyarankan ibumu tidak usah memperpanjang persoalan.”
“Kenapa tidak ada yang membantu kami?”
Marius menarik napas panjang.
“Sebagian orang takut. Sebagian lagi mungkin tidak ingin terlibat. Ada juga yang sudah terlanjur percaya pada cerita yang beredar.”
Yohan memandang halaman rumah itu.
Ia baru menyadari bahwa penderitaan keluarganya bukan hanya soal kehilangan tanah. Mereka juga kehilangan kepercayaan dari orang-orang di sekitar mereka.
Ayahnya meninggal dengan nama yang dipertanyakan.
Ibunya bertahun-tahun hidup dengan beban itu.
Dan Yohan sendiri meninggalkan kampung tanpa benar-benar mengetahui apa yang terjadi.
“Om,” katanya, “kalau saya ingin membersihkan nama Bapa, apa yang harus saya lakukan?”
Marius menatapnya dengan serius.
“Mulailah dari dokumen. Cari tahu siapa yang membuatnya, siapa yang menandatanganinya, dan bagaimana dokumen itu digunakan. Kalau ada yang tidak sesuai, jangan hanya berdebat di jalan atau di depan rumah. Cari cara yang benar untuk memeriksanya.”
Yohan mengangguk.
Nasihat itu mengingatkannya pada perkataan ayahnya.
Bawa bukti.
Bukan sekadar kemarahan.
Menjelang siang, Yohan berjalan menuju warung kecil di dekat jalan utama.
Ia ingin membeli air minum sebelum kembali ke rumah. Namun, ketika melewati sekelompok orang yang sedang duduk di depan warung, ia mendengar namanya disebut.
“Anaknya Mateus sudah pulang,” kata seorang laki-laki.
“Untuk apa?” sahut yang lain.
“Mungkin mau mengurus tanah itu lagi.”
Seseorang tertawa kecil.
“Kalau ayahnya dulu tidak membuat masalah, anaknya tidak perlu repot sekarang.”
Yohan berhenti.
Ia tahu orang-orang itu sedang membicarakan ayahnya.
Ia bisa saja terus berjalan, berpura-pura tidak mendengar. Tetapi ketika salah seorang dari mereka berkata bahwa Mateus telah merugikan orang lain, Yohan tidak sanggup lagi menahan diri.
“Maaf,” katanya sambil mendekat. “Boleh saya tahu dari mana Bapak mendapatkan cerita itu?”
Percakapan langsung berhenti.
Seorang laki-laki yang mengenakan topi menatap Yohan.
“Kamu siapa?”
“Saya anak Mateus Seran.”
Laki-laki itu terlihat sedikit canggung, tetapi kemudian kembali memasang wajah keras.
“Kalau begitu, seharusnya kamu tahu apa yang dilakukan ayahmu.”
“Saya justru ingin tahu. Apa yang sebenarnya Bapak ketahui?”
“Semua orang sudah tahu ceritanya.”
“Kalau begitu, tentu ada yang bisa menjelaskan berdasarkan bukti, bukan hanya cerita.”
Beberapa orang saling pandang.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Yohan berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
“Saya tidak datang untuk bertengkar. Saya hanya tidak ingin nama ayah saya terus dibicarakan tanpa ada yang mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”
Laki-laki bertopi itu berdiri.
“Jangan mengajari kami tentang kampungmu sendiri.”
Yohan menghela napas.
“Saya tidak mengajari siapa pun, Pak. Saya hanya meminta penjelasan.”
“Sudahlah. Pulang saja. Kalau kamu ingin membela ayahmu, bawa saja surat-suratmu.”
Kalimat itu membuat Yohan terdiam.
Bawa surat-suratmu.
Ia sadar bahwa itulah inti persoalan yang harus diselesaikannya.
Bukan dengan berteriak lebih keras daripada orang lain. Bukan dengan mempermalukan siapa pun di depan umum.
Ia harus menemukan bukti yang dapat diperiksa.
Yohan pun meninggalkan warung tanpa memperpanjang perdebatan.
Namun, ia belum sampai di ujung jalan ketika seseorang memanggilnya.
“Yohan!”
Ia menoleh.
Seorang perempuan setengah baya berjalan tergesa-gesa menghampirinya. Wajahnya tampak gelisah.
“Om Marius menyuruh saya mencari kamu.”
“Ada apa, Bu?”
Perempuan itu memandang ke kanan dan kiri sebelum berbicara.
“Saya mendengar pembicaraan tentang ayahmu beberapa hari sebelum beliau meninggal.”
Yohan langsung memperhatikannya.
“Pembicaraan apa?”
“Saya tidak mendengar semuanya. Waktu itu saya sedang lewat dekat rumah seseorang. Saya mendengar mereka membicarakan surat tanah dan meminta ayahmu menerima suatu keputusan.”
“Siapa yang berbicara?”
Perempuan itu ragu.
“Saya tidak berani memastikan. Sudah lama sekali.”
“Apakah Ibu ingat kapan?”
“Beberapa hari sebelum ayahmu meninggal.”
Yohan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
“Apakah Ibu bersedia menceritakannya lagi jika saya perlu memeriksa persoalan ini secara resmi?”
Perempuan itu menunduk.
“Saya harus memikirkannya, Nak. Saya tidak mau salah bicara.”
Yohan mengangguk.
“Saya mengerti. Saya tidak akan memaksa Ibu.”
Perempuan itu pergi setelah berpesan agar Yohan berhati-hati.
Yohan kembali ke rumah dengan pikiran penuh.
Untuk pertama kalinya, ada orang lain yang mengisyaratkan bahwa persoalan tanah keluarganya mungkin tidak sesederhana yang selama ini diceritakan.
Namun, ia belum memiliki cukup bukti untuk menyimpulkan apa pun.
Sore hari, Maria sedang duduk di beranda ketika Yohan pulang.
Di pangkuannya terdapat pakaian yang baru selesai dilipat. Ia mengangkat kepala ketika melihat anaknya membawa map biru.
“Kamu dari mana, Nak?”
“Dari rumah Om Marius.”
Maria berhenti melipat pakaian.
“Untuk apa kamu ke sana?”
“Saya ingin tahu apa yang orang-orang katakan tentang Bapa.”
Wajah Maria tampak lelah.
“Sudah, Yohan. Jangan terlalu memikirkan perkataan orang.”
“Bagaimana saya tidak memikirkannya, Ma? Mereka menuduh Bapa melakukan sesuatu yang sampai sekarang tidak bisa mereka jelaskan dengan bukti.”
Maria meletakkan pakaian di sampingnya.
“Mama tahu kamu ingin membela ayahmu.”
“Bukan hanya membela, Ma. Saya ingin tahu kebenarannya.”
Maria memandang anaknya lama sekali.
“Ada kalanya, Nak, kebenaran yang kita cari justru membuka luka yang selama ini kita coba tutup.”
Yohan duduk di samping ibunya.
“Kalau kita terus diam, orang akan menganggap semua tuduhan itu benar.”
Maria tidak menjawab.
Yohan kemudian mengeluarkan fotokopi dokumen yang diterimanya kemarin.
“Ma, Mama pernah melihat surat ini?”
Maria mengambilnya.
Begitu melihat bagian bawah halaman, wajahnya mendadak pucat.
Tangannya bergetar.
Yohan segera menyadarinya.
“Ma, kenapa?”
Maria tidak menjawab. Ia terus memandangi tanda tangan pada dokumen itu.
“Ma?”
Perempuan itu mengembalikan kertas tersebut dengan gerakan pelan.
“Dari mana kamu mendapatkan surat ini?”
“Ada orang yang mengirimkannya ke rumah.”
Maria berdiri, lalu masuk ke kamar tanpa berkata apa-apa.
Yohan mengikutinya.
“Ma, saya perlu tahu apa yang Mama ketahui.”
Maria membuka lemari tua di sudut kamar. Ia menggeser beberapa pakaian, kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil yang selama ini tersimpan di bagian paling bawah.
Ia membuka kotak itu dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat beberapa benda lama milik Mateus: sebuah jam tangan, foto keluarga yang lain, dan sebuah amplop putih yang sudah menguning.
Maria mengambil amplop itu.
“Dulu, ayahmu memberikan ini kepada Mama,” katanya lirih. “Dia bilang, kalau suatu hari orang kembali mempersoalkan tanah itu, Mama harus menyerahkannya kepada kamu.”
Yohan menatap amplop tersebut.
“Kenapa Mama tidak pernah memberikannya kepada saya?”
Maria memejamkan mata.
“Karena Mama takut.”
“Takut kepada siapa?”
Maria menyerahkan amplop itu kepadanya.
“Baca sendiri.”
Yohan membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat sepucuk surat tulisan tangan ayahnya.
Ia baru membaca beberapa baris ketika pandangannya berhenti pada satu kalimat.
Jika suatu hari mereka mengatakan bahwa aku telah menjual tanah keluarga kita, jangan percaya sebelum kamu mengetahui siapa yang sebenarnya datang menemuiku malam itu.
Yohan membaca kalimat tersebut sekali lagi.
Di bagian bawah surat, ayahnya menulis sebuah nama.
Bukan nama Adrian Klau.
Bukan pula nama orang asing yang belum pernah dikenal Yohan.
Nama itu adalah nama yang sejak kecil selalu ia panggil dengan sebutan keluarga.
Benediktus Seran.
BAB 5 — Saksi yang Memilih Diam
Dalam sebuah rahasia, orang yang mengetahui kebenaran belum tentu berani mengatakannya. Terkadang, diam adalah cara seseorang melindungi dirinya sendiri. Tetapi bagi orang lain, diam itu bisa menjadi awal kehancuran.
Yohan masih memegang surat ayahnya ketika malam mulai turun.
Ia duduk sendirian di ruang tengah. Lampu rumah menyala redup, sementara dari dapur terdengar suara ibunya membereskan peralatan makan.
Nama yang tertulis di bagian bawah surat itu terus memenuhi pikirannya.
Benediktus Seran.
Pamannya sendiri.
Orang yang dahulu mengajarinya mengendarai sepeda. Orang yang pernah membelikannya sepatu sekolah ketika ayahnya belum mempunyai cukup uang. Orang yang selalu berkata bahwa keluarga harus saling menjaga dalam keadaan apa pun.
Apakah orang yang pernah membantunya itu juga orang yang mengetahui rahasia di balik kehancuran keluarganya?
Yohan membaca kembali surat ayahnya.
Tulisan tangan Mateus tidak terlalu rapi, tetapi masih bisa dibaca dengan jelas. Sayangnya, surat itu tidak menjelaskan apa yang terjadi pada malam yang disebutkan di dalamnya.
Hanya ada satu petunjuk: Benediktus pernah datang menemui Mateus.
Yohan melipat surat tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam amplop.
Ia tidak ingin menuduh pamannya hanya berdasarkan satu kalimat. Ia membutuhkan penjelasan langsung.
Keesokan paginya, ia memutuskan untuk menemui Benediktus.
Rumah Benediktus berada beberapa jalan dari rumah keluarga Seran.
Ketika masih kecil, Yohan sering bermain di halaman rumah itu. Ia ingat pohon jambu di samping dapur, bangku kayu di beranda, dan suara radio yang hampir selalu terdengar pada sore hari.
Namun, pagi itu, ia merasa seperti orang asing ketika berdiri di depan pagar.
Ia mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk sekali lagi.
Tak lama kemudian, Benediktus muncul dari dalam rumah. Ia mengenakan kaus sederhana dan sarung. Ketika melihat Yohan, wajahnya menunjukkan keterkejutan yang sulit disembunyikan.
“Yohan?”
“Selamat pagi, Paman.”
Benediktus membuka pagar.
“Kapan kamu pulang?”
“Kemarin.”
“Kenapa tidak langsung datang ke sini?”
Yohan memperhatikan wajah pamannya.
“Saya punya beberapa hal yang ingin saya tanyakan.”
Benediktus mengangguk dan mempersilakannya masuk.
Mereka duduk di beranda. Untuk beberapa saat, keduanya berbicara tentang hal-hal biasa. Benediktus menanyakan pekerjaan Yohan di Kupang, sementara Yohan menjawab seperlunya.
Tetapi ia tahu bukan itu alasan kedatangannya.
“Paman,” katanya akhirnya, “saya ingin bertanya tentang tanah keluarga kami.”
Senyum Benediktus perlahan menghilang.
“Masalah itu lagi?”
“Paman tahu keadaan tanah kami sekarang?”
“Tahu sedikit.”
“Batasnya sudah berubah. Ada orang yang mengatakan sebagian tanah itu milik Pak Adrian.”
Benediktus mengusap wajahnya.
“Urusan tanah itu sudah lama. Jangan sampai kamu membuat masalah lama menjadi semakin besar.”
Yohan terdiam sejenak.
“Paman pernah mengatakan bahwa keluarga harus saling menjaga. Saya masih mengingat perkataan itu.”
“Tentu. Kita ini keluarga.”
“Kalau begitu, saya ingin Paman membantu saya memahami apa yang sebenarnya terjadi.”
Benediktus memalingkan wajah ke halaman.
“Apa yang ingin kamu ketahui?”
Yohan mengeluarkan amplop dari tasnya.
“Saya menemukan surat dari Bapa.”
Ia tidak langsung menyerahkan surat itu. Ia hanya mengeluarkannya sedikit, cukup agar Benediktus dapat melihat tulisan tangan Mateus pada bagian luar amplop.
Perubahan pada wajah pamannya begitu cepat, tetapi Yohan sempat melihatnya.
Benediktus menegakkan punggung.
“Surat apa itu?”
“Surat yang Bapa tinggalkan untuk Mama.”
“Kenapa baru sekarang kamu menemukannya?”
“Karena Mama baru memberikannya kepada saya.”
Benediktus mengulurkan tangan, tetapi Yohan belum menyerahkan surat itu.
“Paman pernah menemui Bapa beberapa hari sebelum beliau meninggal?”
Tangan Benediktus berhenti di udara.
“Siapa yang mengatakan itu?”
Yohan menatapnya.
“Jadi, memang benar Paman pernah datang?”
Benediktus menarik tangannya kembali.
“Kami bersaudara. Tentu saja saya pernah datang menemui kakak saya.”
“Saya tidak mengatakan Paman tidak boleh datang. Saya hanya ingin tahu apa yang dibicarakan saat itu.”
“Sudah lama sekali, Yohan. Saya tidak ingat semuanya.”
Yohan mengangguk perlahan.
“Kalau begitu, saya akan bertanya hal lain. Apakah Paman pernah menandatangani dokumen yang berkaitan dengan tanah keluarga kami?”
Benediktus berdiri.
“Siapa yang memberimu pertanyaan seperti ini?”
“Saya menemukan salinan dokumen yang memuat nama Paman.”
“Dokumen apa?”
“Dokumen yang saya sendiri belum bisa memastikan kebenarannya. Itulah sebabnya saya datang untuk bertanya.”
Benediktus berjalan beberapa langkah menjauhi kursi.
Wajahnya tampak gelisah.
“Dengarkan saya, Yohan. Tidak semua yang kamu dengar itu benar. Banyak orang bisa mengatakan apa saja ketika ada persoalan tanah.”
“Saya setuju, Paman. Karena itulah saya datang langsung kepada Paman, bukan menyebarkan cerita kepada orang lain.”
Benediktus tidak menjawab.
Yohan berdiri dan memasukkan kembali surat itu ke dalam tas.
“Saya tidak ingin bertengkar dengan Paman. Saya hanya ingin tahu apa yang terjadi kepada Bapa.”
Benediktus menunduk.
Untuk sesaat, Yohan merasa pamannya akan mengatakan sesuatu.
Namun, laki-laki itu hanya berkata, “Pulanglah dulu. Saya perlu mengingat semuanya.”
Yohan mengangguk.
“Baik, Paman. Tetapi saya akan datang lagi.”
Ketika Yohan berjalan menuju pagar, Benediktus memanggilnya.
“Yohan.”
Ia menoleh.
“Apa pun yang kamu temukan nanti, jangan langsung percaya kepada orang yang mengaku ingin membantumu.”
Yohan menatap pamannya cukup lama.
“Apakah Paman sedang memperingatkan saya tentang seseorang?”
Benediktus menggeleng.
“Tidak. Saya hanya ingin kamu berhati-hati.”
Yohan tidak bertanya lebih jauh.
Ia meninggalkan rumah itu dengan perasaan yang semakin tidak menentu.
Pamannya tidak mengakui apa pun.
Tetapi ia juga tidak memberikan penjelasan yang menenangkan.
Dan bagi Yohan, sikap itu justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan.
Dalam perjalanan pulang, Yohan mampir ke sebuah kios untuk membeli air minum.
Di sana, ia bertemu Lidia Nahak, teman masa kecilnya yang kini bekerja sebagai guru honorer.
“Yohan?”
Yohan menoleh dan tersenyum kecil.
“Lidia. Sudah lama.”
Lidia menghampirinya.
“Kamu benar-benar pulang? Saya dengar dari Mama bahwa kamu sudah sampai kemarin.”
“Iya. Ada beberapa urusan keluarga.”
Lidia memperhatikan wajahnya.
“Kamu kelihatan banyak pikiran.”
Yohan tertawa hambar.
“Memang banyak.”
Mereka duduk di bangku kecil di depan kios.
Lidia bercerita tentang pekerjaannya, anak-anak sekolah, dan perubahan yang terjadi di kampung selama Yohan berada di Kupang. Untuk beberapa menit, Yohan merasa seperti kembali menjadi pemuda yang dahulu mengenal kehidupan kampung tanpa beban persoalan tanah.
Namun, ketika Lidia menanyakan keadaan Maria, percakapan kembali serius.
“Bagaimana keadaan Tante Maria?”
“Masih berusaha bertahan.”
“Dan soal tanah itu?”
Yohan memandangnya.
“Kamu tahu sesuatu?”
Lidia terdiam sebentar.
“Saya tahu orang-orang masih membicarakannya. Tetapi saya tidak tahu seluruh ceritanya.”
Yohan mempertimbangkan apakah ia harus menceritakan surat ayahnya. Pada akhirnya, ia memilih untuk tidak membuka semua temuannya.
“Saya sedang mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Lidia mengangguk.
“Kalau kamu butuh bantuan untuk memahami dokumen atau mencari informasi yang bisa diperiksa, katakan saja. Tetapi jangan mengambil keputusan ketika sedang marah.”
Yohan tersenyum tipis.
“Kenapa semua orang mengatakan hal yang sama?”
“Karena saya mengenalmu sejak kecil. Kalau kamu merasa seseorang menyakiti keluargamu, kamu bisa sangat keras kepala.”
“Bukankah itu sifat yang baik?”
“Kadang-kadang. Tetapi keras kepala juga bisa membuat seseorang tidak melihat hal lain di sekelilingnya.”
Yohan tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di kampung, ia merasa masih ada orang yang berbicara kepadanya bukan karena takut atau karena ingin mengetahui urusan keluarganya.
Sebelum berpisah, Lidia mengatakan bahwa ia mungkin bisa membantu mencari orang-orang yang mengetahui riwayat tanah di sekitar rumah keluarga Seran.
Yohan berterima kasih.
Ia belum tahu apakah Lidia akan benar-benar bisa membantu. Namun, setidaknya ia tidak lagi merasa harus menghadapi semuanya sendirian.
Sore harinya, Yohan kembali memeriksa surat ayahnya.
Ia duduk di dekat jendela, memperhatikan setiap baris tulisan yang sebelumnya terlewat.
Di bagian belakang kertas, terdapat beberapa kata yang ditulis lebih kecil.
Yohan mendekatkan surat itu ke cahaya.
Tulisan tersebut hampir tidak terbaca. Ia mengambil telepon dan memotret bagian itu, kemudian memperbesar gambarnya.
Setelah beberapa kali mencoba, ia akhirnya dapat membaca sebagian kalimatnya.
Bicaralah dengan orang yang melihat semuanya, tetapi tidak pernah berani bersaksi.
Yohan membaca kalimat itu berulang kali.
Ayahnya tidak menuliskan nama orang tersebut.
Ia hanya meninggalkan petunjuk bahwa seseorang mengetahui sesuatu tentang persoalan tanah keluarga mereka.
Seseorang yang memilih diam.
Yohan teringat pada percakapannya dengan Marius. Ia juga teringat perempuan yang mengaku pernah mendengar pembicaraan beberapa hari sebelum ayahnya meninggal.
Mungkin orang itu adalah saksi yang dimaksud ayahnya.
Ia segera mencari nomor telepon Marius dan menghubunginya.
“Om, maaf mengganggu.”
“Tidak apa-apa, Yohan. Ada apa?”
“Saya ingin bertanya tentang seseorang yang mungkin mengetahui apa yang terjadi sebelum Bapa meninggal.”
Marius terdiam sejenak.
“Siapa orangnya?”
“Itulah yang belum saya ketahui. Bapa meninggalkan catatan bahwa ada seseorang yang melihat semuanya, tetapi tidak berani bersaksi.”
Di seberang telepon, Yohan mendengar Marius menarik napas panjang.
“Yohan, ada satu orang yang mungkin perlu kamu temui.”
“Siapa, Om?”
“Namanya Frans. Dulu dia sering bekerja di sekitar lokasi tanah itu. Dia tahu keadaan kebun keluargamu sebelum persoalan muncul.”
“Apakah dia masih tinggal di kampung?”
“Masih. Tetapi sudah lama dia tidak mau membicarakan masalah itu.”
“Kenapa?”
Marius menjawab dengan suara lebih pelan.
“Karena dia pernah mengatakan bahwa ada hal yang membuatnya takut. Saya tidak tahu apakah dia benar-benar melihat sesuatu atau hanya mendengar cerita orang lain.”
Yohan segera mencatat nama itu.
“Di mana saya bisa menemuinya?”
Marius memberikan petunjuk arah menuju rumah Frans.
Sebelum mengakhiri panggilan, ia berpesan agar Yohan datang dengan baik-baik dan tidak memaksa Frans berbicara.
Yohan berjanji akan melakukannya.
Malam itu, ia menyiapkan map berisi dokumen yang sudah dikumpulkannya. Ia memisahkan surat ayahnya dari fotokopi dokumen yang memuat nama Benediktus, lalu menuliskan beberapa pertanyaan yang ingin diajukan kepada Frans.
Ia belum memiliki bukti yang cukup untuk menyimpulkan siapa yang bersalah.
Tetapi ia mulai memahami bahwa jawaban tidak akan datang hanya dengan menunggu.
Ia harus menemui orang-orang yang selama ini memilih diam.
Keesokan paginya, Yohan berjalan menuju rumah Frans.
Rumah itu terletak agak jauh dari jalan utama. Halamannya sederhana, dengan beberapa tanaman di depan beranda.
Seorang laki-laki berusia sekitar enam puluh tahun sedang duduk di bangku kayu ketika Yohan tiba.
“Selamat pagi, Pak,” sapa Yohan.
Laki-laki itu mengangkat kepala.
“Pagi. Kamu siapa?”
“Saya Yohan Seran, anak Mateus.”
Frans langsung terdiam.
Ia meletakkan gelas yang dipegangnya di atas bangku, kemudian berdiri perlahan.
“Anaknya Mateus?”
“Iya, Pak.”
Frans menatap Yohan cukup lama, seolah-olah sedang mengingat sesuatu yang sudah bertahun-tahun berusaha dilupakannya.
“Ada keperluan apa?”
“Saya ingin bertanya tentang tanah keluarga kami. Saya mendengar Bapak pernah mengetahui keadaan tanah itu sebelum persoalan muncul.”
Wajah Frans berubah.
“Saya tidak tahu apa-apa.”
Yohan tidak langsung menjawab.
“Saya belum menuduh siapa pun, Pak. Saya hanya ingin memahami apa yang terjadi.”
“Saya sudah bilang, saya tidak tahu apa-apa.”
Frans melangkah menuju pintu rumah.
Namun, sebelum masuk, ia berhenti dan menoleh kembali.
“Dengarkan saya, Yohan. Ayahmu orang baik. Tetapi ada urusan yang lebih baik kamu biarkan selesai di masa lalu.”
Yohan merasa dadanya menegang.
“Kalau Bapak tidak tahu apa-apa, mengapa Bapak mengatakan saya harus membiarkannya di masa lalu?”
Frans tidak menjawab.
Ia masuk ke rumah dan menutup pintu.
Yohan berdiri di halaman, memandangi pintu yang kini tertutup rapat.
Ia tidak marah kepada Frans. Setidaknya, belum.
Mungkin laki-laki itu benar-benar tidak mengetahui apa pun. Mungkin juga ia mengetahui sesuatu yang belum berani diungkapkannya.
Yohan hendak pergi ketika mendengar suara langkah dari belakang rumah.
Frans muncul kembali, kali ini dengan wajah jauh lebih pucat.
Ia mendekat dan berbicara dengan suara hampir berbisik.
“Yohan, dengarkan saya baik-baik. Saya tidak bisa berbicara di sini.”
Yohan menatapnya.
“Lalu di mana kita bisa berbicara?”
Frans memandang jalan, memastikan tidak ada orang lain yang mendekat.
“Besok pagi, datanglah sendiri. Jangan membawa dokumen, jangan memberi tahu siapa pun.”
“Kenapa, Pak?”
Frans menelan ludah.
“Karena ada sesuatu yang saya lihat pada malam sebelum ayahmu meninggal.”
Yohan tidak bergerak.
Frans kemudian menambahkan satu kalimat yang membuat semua pertanyaan di kepala Yohan kembali terbuka.
“Dan orang yang datang menemui ayahmu malam itu bukan hanya pamanmu.”
Yohan menahan napas.
“Siapa lagi yang datang?”
Frans memandangnya dengan ketakutan yang tidak bisa disembunyikan.
“Saya akan menceritakannya besok. Tetapi kamu harus berjanji satu hal.”
“Apa?”
“Jangan biarkan siapa pun tahu bahwa saya mulai berbicara.”
Frans segera masuk kembali ke rumah.
Yohan berjalan pulang dengan langkah lambat.
Selama ini, ia mengira persoalan keluarganya hanya melibatkan dua orang: Adrian Klau dan Benediktus Seran.
Sekarang, ia mulai menyadari bahwa mungkin ada orang lain yang selama bertahun-tahun bersembunyi di balik cerita yang sama.
Dan jika Frans benar-benar melihat apa yang terjadi pada malam sebelum ayahnya meninggal, kesaksiannya bisa menjadi kunci untuk membuka rahasia yang selama ini terkunci.
Namun, satu pertanyaan terus mengganggu pikiran Yohan.
Jika Frans hanya seorang saksi, mengapa ia begitu takut menceritakan apa yang dilihatnya?